Rahasia Sexual Sapi Betina

30 01 2008

I. PENDAHULUAN          

Inseminasi Buatan (IB) telah dikembangkan dan digunakan secara luas di seluruh dunia. Apabila dahulu Pemerintah Republik Indonesia menyebarkan bantuan pejantan unggul untuk melayani sapi-sapi betina rakyat melalui perkawinan alami, dewasa ini perkawinan dilayani dengan menggunakan teknik inseminasi buatan.

Pada awal dikenalkannya inseminasi buatan di Indonesia, pelayanan inseminasi buatan dilakukan dengan menggunakan semen/sperma cair. Sejak dekade 1970-an telah mulai dikenal inseminasi buatan di Indonesia dengan menggunakan semen beku. Semen beku tersebut didapat dari bantuan pemerintah Inggris dan Selandia Baru.         

Dewasa ini pemerintah telah mendirikan Balai Inseminasi Buatan di Lembang, Jawa Barat dan Singosari, Jawa Timur sebagai pusat produksi semen beku untuk memenuhi kebutuhan semen beku di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian penyebaran bibit sapi unggul dapat terus berkembang di negeri ini secara efisien melalui pelayanan inseminasi buatan. Agar pelayanan inseminasi buatan dapat berhasil dengan baik maka dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengetahui “rahasia sexual sapi betina”. Rahasia sexual yang akan dikemukakan di dalam tulisan ini meliputi pengertian berahi, deteksi berahi, tanda-tanda berahi, siklus berahi, dan waktu yang terbaik untuk melakukan inseminasi.

II. B E R A H I
A. Pengertian, Deteksi dan Tanda-tanda berahi.    
Pengertian.

Berahi ialah suatu periode yang ditandai dengan kelakuan kelamin seekor ternak betina dan penerimaan pejantan untuk kopulasi.Deteksi Berahi.Yang dimaksud dengan deteksi berahi adalah pengamatan terhadap tanda-tanda (gejala-gejala) berahi pada ternak. Cara-cara untuk mengamati tanda-tanda berahi perlu diajarkan kepada peternak, pemilik, atau penggembala. Hal ini dimaksudkan agar peternak dapat melaporkan kepada petugas inseminasi buatan (inseminator), sehingga pelaksanaan inseminasi buatan dapat tepat waktu. Deteksi berahi yang baik paling sedikit dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan petang hari. Deteksi berahi dapat menggunakan ternak betina yang sedang berahi atau menggunakan pejantan pengusik. Deteksi berahi terhadap sapi perah dapat langsung di dalam kandang, tetapi akan lebih baik apabila dilepaskan di lapangan atau halaman, dalam kelompok untuk diamati secara teliti. Demikian pula deteksi berahi pada sapi potong. Sapi yang diam sewaktu dinaiki oleh kawannya ialah sapi yang berahi. Demikian pula sapi betina yang mencoba menaiki kawannya ialah sapi yang sedang menjelang berahi. Gejala-gejala berahi yang lain seperti sapi tidak tenang dan nafsu makan menurun akan memperkuat penentuan berahi tersebut. Lebih-lebih lagi apabila terdapat catatan yang lengkap mengenai pengamatan berahi pada sapi betina yang diidentifikasi baik sebelum, selama, dan sesudah inseminasi pada periode berahi sebelumnya. Perkiraan waktu berahi berdasarkan kejadian berahi antara 16-24 hari terdahulu, akan membantu deteksi sapi betina yang berahi. Di lapangan, sering pula ditemukan peternak yang tidak sanggup melakukan deteksi berahi dengan cermat, atau bahkan ada yang malas melakukannya. Untuk mengatasi hal tersebut ternak betina perlu dilepaskan di lapangan bersama-sama dengan sapi betina lain, atau pejantan pengusik. Tindakan ini dapat menemukan sapi betina yang sedang berahi dengan baik. Dalam kelompok ternak yang makin besar maka deteksi berahi makin sulit dilakukan. Namun masih dapat diatasi dengan menggunakan sapi betina yang sedang berahi atau pejantan pengusik. Satu atau dua ekor sapi betina yang sedang berahi atau pejantan pengusik apabila dilepaskan di lapangan bersama dengan kawanan sapi betina lainnya akan dapat menemukan 5-6 ekor sapi betina dalam waktu singkat dengan tingkah laku berahinya.Apabila sapi berada di kandang, ekor dan pantat sapi betina diperiksa setiap hari pada pagi dan petang hari. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi perubahan-perubahan yang terjadi pada vulvanya, atau tanda-tanda pengeluaran lendir berahi. Di kandang yang gelap dapat dipakai senter untuk membantu pengamatan. Deteksi yang cermat dan pelaporan pada waktu yang tepat untuk inseminasi akan mempertinggi angka kebuntingan dan memperpendek interval kelahiran. Program inseminasi buatan tidak mungkin dilaksanakan tanpa adanya deteksi berahi terlebih dahulu dan kalau dinilai secara ekonomis deteksi berahi yang baik mempunyai nilai yang cukup tinggi.Dalam banyak hal bisa terjadi berahi tenang atau berahi yang tidak begitu jelas, sehingga deteksi berahi menurut cara-cara sepintas menjadi sulit dilakukan. Keadaan ini cenderung terjadi pada ternak-ternak tua.Pada umumnya sapi-sapi dara sangat bertingkah dalam kelakuan kelaminnya. Namun demikian ada juga sapi dara yang tidak memper-lihatkan tanda-tanda berahinya meskipun dalam keadaan berahi. Oleh karena itu, catatan tentang siklus berahi terdahulu sangat dibutuhkan, dan interval berahi yang tidak teratur mungkin ada hubungannya dengan rendahnya kesuburan atau terjadinya kemajiran.

Tanda-tanda berahi.

Tanda-tanda berahi yang sering ditunjukkan oleh sapi betina a.l. :a. Kemaluan (vulva) membengkak, selaput lendir berwarna merah, dan apabila diraba dengan punggung tangan akan terasa hangat. Dari kemaluannya keluar lendir transparan. Di pedesaan di Jawa Tengah sering disebut 3A (Abuh, Abang, Anget). Sedang di Jawa Barat peternak menyebut 3B (Beureum, Bengkak, Basah).

b. Sapi betina yang sedang berahi suka melenguh dan gelisah. Di lapangan, sapi-sapi betina berahi suka berkelana untuk mencari pejantan. Peternak atau inseminator yang berpengalaman dapat mengenal lenguhan sapi berahi. Nada lenguhannya berbeda dengan lenguhan sapi yang tidak berahi, lenguhan sapi lapar atau lenguhan sapi ketakutan. Di pedesaan dikenal dengan istilah gemboran.

c. Nafsu makan menurun.d. Pupil mata berdilatasi sehingga mata kelihatan sayu.Terjadinya berahi pada ternak betina dimulai pada saat ternak mengalami pubertas. Pubertas atau dewasa kelamin adalah saat ternak betina atau jantan muda mulai menunjukkan aktivitas seksualnya. Pubertas pada ternak betina ditandai dengan dimulainya produksi sel telur yang dapat diovulasikan. Pada ternak sapi, pubertas dipengaruhi oleh faktor genetis ternak dan faktor luar seperti suhu, musim, dan kondisi pakan. Ternak sapi dengan level protein pakan yang tinggi akan mempunyai kecepatan tumbuh yang tinggi, biasanya mencapai pubertas lebih cepat apabila dibandingkan dengan sapi yang memperoleh pakan dengan level protein yang rendah.Pada sapi perah, pubertas rata-rata terjadi pada saat berat badan sapi mencapai 30-40% dari berat badan dewasa. Pada sapi potong, pubertas rata-rata terjadi pada saat berat badan sapi mencapai 45-55% dari berat dewasa.Menurut bangsanya, sapi betina mulai masuk masa pubertas pada umur :

· Sapi dari Bangsa Eropa antara 16-18 bulan.

· Sapi Brahman, Zebu antara 12-30 bulan. Timbulnya berahi pada sapi sesudah melahirkan juga bervariasi. Hal ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas menyusui anak dan involusi uteri, disamping faktor pakan. Involusi uteri adalah proses kembalinya kondisi uterus ke keadaan normal sesudah sapi melahirkan. Rata-rata involusi uteri terjadi lebih kurang 40 hari sesudah melahirkan. Sapi yang menyusui seringkali tidak mengalami berahi. Tetapi satu minggu setelah anak sapi dipisahkan atau disapih, induk akan segera menunjukkan tanda-tanda berahi. Sapi bunting biasanya juga  tidak menunjukkan tanda-tanda berahi, meskipun 3,5% sapi bunting masih ada yang menunjukkan tanda-tanda berahi.

B. Siklus Berahi dan Waktu Terbaik Untuk Inseminasi.

     Siklus berahi.

Telah diketahui bahwa untuk dapat menghasilkan kebuntingan, maka inseminasi tidak dapat dilakukan pada sembarang waktu. Waktu yang terbaik untuk melakukan inseminasi berhubungan erat dengan siklus berahi yang terjadi pada ternak betina.Siklus berahi adalah interval antara timbulnya satu periode berahi ke permulaan periode berahi berikutnya. Pada keadaan normal, siklus berahi pada sapi berkisar antara 18-24 hari atau rata-rata 21 hari, dengan lama berahi antara 12-28 jam atau rata-rata 18 jam.Siklus berahi pada umumnya dibagi dalam 4 fase, yaitu : proestrus (lamanya 3 hari), estrus atau berahi (lamanya 18 jam), metestrus (lamanya 3-5 hari), dan diestrus (lamanya 13 hari). Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1.

       Ovulasi                                                                                                   Ovulasi  

 18 jam      3-5 hari                               13 hari                               3 hari     

        Estrus      Metestrus                            Diestrus                         Proestrus    Estrus

       
Gambar 1. Siklus Berahi  pada Ternak Sapi Betina

 Waktu Terbaik Untuk Inseminasi.     

Untuk mendapatkan induk yang baik dan anak yang sehat maka perkawinan pertama pada sapi dara baru boleh dilakukan pada saat sapi sudah mengalami dewasa tubuh, kira-kira pada berat antara 170-240 kg, disamping juga sudah mencapai dewasa kelamin.Pada sapi sehabis melahirkan, agar interval kelahiran tidak terlalu panjang (idealnya 360-365 hari) maka 60-90 hari sesudah melahirkan sebaiknya sapi diinseminasi. Apabila terlambat maka interval melahirkan akan menjadi panjang. Hal ini berarti efisiensi reproduksinya menjadi rendah.Waktu terbaik untuk inseminasi berdasarkan waktu berahi perlu diperhatikan agar diperoleh angka kebuntingan yang tinggi. Tidak sepanjang waktu berahi merupakan waktu terbaik untuk inseminasi. Waktu yang   terbaik  untuk   inseminasi   harus   diperhitungkan dengan waktu kapasitasi dan waktu ovulasi. Kapasitasi ialah suatu proses fisiologis yang dialami oleh spermatozoa di dalam saluran kelamin betina untuk mempunyai  kapasitas  atau  kesanggupan untuk membuahisel telur (konsepsi). Ovulasi didefinisikan sebagai pelepasan ovum dari follikel de Graaf. Rata-rata waktu ovulasi adalah segera setelah akhir berahi.         

Gambar 2. Pedoman Waktu Inseminasi pada Sapi

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, waktu terbaik untuk pelaksanaan inseminasi adalah mulai dari pertengahan berahi sampai 6 jam sesudah akhir berahi. Dalam praktek, waktu permulaan datangnya berahi tidak dapat ditentukan dengan pasti. Oleh karena itu perlu dipergunakan patokan seperti terlihat pada Tabel 1.

     Tabel 1.- Pedoman Waktu Pelaksanaan Inseminasi Buatan.

PERTAMA KALI TERLIHATBERAHI  HARUS DI-IB PADA  TERLAMBAT
 PAGISORE  HARI YANG SAMAHARI BERIKUTNYA(PAGI – SIANG)  HARI BERIKUTNYA BESOK SORENYA

Dari Tabel 1 dapat diuraikan bahwa  sapi betina yang terlihat pertama kali berahi pada pagi hari, harus diinseminasi pada hari itu juga. Apabila baru diinseminasi pada hari berikutnya berarti terlambat. Apabila sapi  mulai terlihat berahi pada sore hari sebaiknya diinseminasi pada hari besoknya pagi sampai siang. Kalau inseminasi baru dilakukan besok sorenya berarti terlambat.Sapi tidak perlu diinseminasi dua kali karena spermatozoa sapi jantan tahan hidup kira-kira antara 30 – 56 jam di dalam saluran kelamin sapi betina.  Apabila diperhitungkan dengan menggunakan pedoman lamanya berahi pada sapi betina, pedoman waktu inseminasi buatan pada sapi dapat dilihat pada Gambar 2. Pada umumnya lama berahi pada sapi betina berlangsung antara 18-19 jam dan ovulasi terjadi antara 10-15 jam sesudah akhir berahi. Oleh karena itu inseminasi buatan tidak boleh dilakukan kurang dari 4 jam sebelum ovulasi atau tidak boleh dilakukan melebihi 6 jam sesudah akhir berahi. Angka konsepsi akan lebih dari 50% apabila inseminasi buatan dilakukan lebih dari 24 jam sebelum ovulasi (sewaktu hewan dalam keadaan berahi) sampai 6 jam sesudah akhir berahi. Angka konsepsi pada sapi yang diinseminasi 10 jam sesudah permulaan berahi adalah sebesar 82%; pada 20 jam sesudah permulaan berahi sebesar 62%; dan pada 30 jam sesudah permulaan berahi sebesar 28%.

Data lain  (Rustanto, 2000) menunjukkan bahwa persentase kebuntingan pada sapi apabila inseminasi dilakukan pada saat-saat : permulaan berahi (Per.Br.) sebesar 44%, pertengahan berahi (Pert. Br.) 82%, akhir berahi   (Akh. Br.) 75%,  6  jam  sesudah   berahi  (6 j. S.Br.)  62,5%, 12 sesudah berahi (12 j. S.Br.) 32,5%, 18 jam sesudah berahi (18 j. S.Br.) 24%, 24 jam  sesudah  berahi   (24 j. S.Br.) 12%, 36 jam  sesudah   berahi  (36 j. S.Br.) 8% dan 48 jam sesudah berahi (48 j. S.Br)  0%. Perbandingan presentase kebuntingan berdasarkan waktu inseminasi dalam diagram batang terlihat pada Gambar 3.

 Gambar 3.- Diagram batang persentase kebuntingan   berdasar saat                   inseminasi (Rustanto, 2000).       

III. KESIMPULAN         

Rahasia sexual sapi betina yang perlu diketahui adalah :

·  Berahi. Sapi-sapi yang sedang berahi adalah sapi yang diam saat dinaiki temannya atau sapi betina yang suka menaiki temannya. Tanda-tanda luar yang nampak pada sapi betina yang sedang berahi berupa : vulva bengkak dan hangat; selaput lendir vulva berwarna merah dan mengeluarkan lendir transparan; nafsu makan turun; suka melenguh; gelisah; dan pupil mata berdilatasi sehingga mata terlihat sayu.

· Berahi pertama kali dimulai saat ternak betina mencapai pubertas.

· Rahasia sexual yang perlu diperhatikan antara lain :

ØPubertas 6-18 bulan (Sapi Eropa), 12-30 bulan (Brahman).

ØSiklus berahi berselang antara 18-23 hari (rata-rata 21 hari).

ØLama berahi berselang antara 12-28 jam  (rata-rata 18 jam).

ØOvulasi terjadi 15 jam sesudah akhir berahi.

ØWaktu terbaik untuk inseminasi adalah pertengahan sampai dengan akhir berahi.

ØWaktu terbaik untuk inseminasi pada sapi setelah melahirkan adalah 60-90 hari sesudah melahirkan.

Daftar Pustaka 

Hafes,  E. S. E.  1993. Reproduction   in   Farm   Animal.   Lea & Febriger,          Philadelphia.

Hardjosubroto, W. & J.M. Astuti. 1993. Buku Pintar Peternakan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

 Keputusan Ketua Lembaga Adminstrasi Negara (LAN) No. 280/IX/6/4/1996. Pedoman Penyusunan Kurikulum, G.B.P.P., dan Bahan Diklat Teknis dan Diklat Fungsional. LAN, Jakarta. 

Rustanto, Drh., MS. 2000. Katalog Pejantan Sapi Potong. Balai Inseminasi Buatan Lembang, Bandung. 

Salisbury, G.W. and L.N. van Demark . 1961. Physiology of Reproduction and Artificial Insemination of Cattle . Freeman & Co. San Fransisco and London.  

Sukresno, P. 2001. Inseminasi Buatan pada Sapi. Badan Penerbit Universitas Dipengoro, Semarang. 

——- 1999. Pengenalan Berahi, Pegangan Pelatih. Dinas Peternakan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah (tidak diterbitkan). 

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung. 

——- 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa., Bandung.  


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: